DotA Guide Indonesia



 
IndeksPortalPencarianPendaftaranLogin

Share | 
 

 Kuyang Parahiyangan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
PhilipSiregar
Momod
Momod


Male Jumlah posting : 33
Join date : 10.02.13
Age : 21
Lokasi : Depan Laptop

PostSubyek: Kuyang Parahiyangan   Fri Mar 01, 2013 11:14 pm

Malam di Parahiyangan terasa mencekam, sayup-sayup terdengar gesekan batang bambu di pinggiran rawa. Sesekali terdengar sahutan burung malam dari kejauhan. Desau angin berhembus pelan. Suasana terasa sangat berbeda dengan desa sebelah, Kararai. Remaja berjaga-jaga disekitar rumah Ambrosius sambil membawa obor. Hawini isterinya hendak melahirkan.
Kebiasaan di desaku. Malam merangkak jauh. Banyak penjaga yang terlelap. Obor-obor masih tetap menyala menerangi pelataran rumah. Aku pun ikut terbawa suasana lengang, dalam keadaan setengah sadar kulihat makhluk api sebesar lampu petromak berada diatas atap rumah Ambrosius. “Kuyang…!” Teriakku lantang Kontan saja para penjaga bangun dan menghunus senjata.
Ada yang membawa mandau, tongkat, batu dan juga parang panjang. “Mana?” “Itu di atas atap!” Makhluk itu ternyata mengetahui kesigapan kami, dan langsung terbang melayang keluar desa Parahiyangan “Kejaa…r!!” kelengangan berubah riuh.
Pengejaran tak membuahkan hasil. Hantuwen itu lenyap tanpa bekas. Semua kembali dengan memendam geram. Di rumah Ambrosius. “ Bayinya sudah membiru….!” Teriak salah satu dari mereka. Bayi yang baru dilahirkan itu kehabisan darah, nyawanya tak bisa diselamatkan. Rupanya Hantuwen tadi telah berhasil menghisap darahnya. Hawini yang mendengar perkataan itu menangis, meraung-raung, sampai tak sadarkan diri.
Hantuwen Kuyang itu adalah wanita jadi-jadian. Untuk mengawetkan tubuhnya agar tetap muda, makhluk itu harus meminum darah orok. Bila ada orang mau melahirkan, makhluk itu akan menjalankan ritualnya, maka tidak jarang setiap malamnya banyak makhluk-makhluk api berseliweran dilangit. Makhluk api itu sebenarnya adalah kepala dan isi tubuh dari manusia jadi-jadian tersebut, dalam ritualnya, badan mereka akan disimpan disuatu ruangan rahasia atau tempat tersembunyi. Dengan cara mengoleskan minyak bintang disekeliling leher setelah itu kepala serta isi badan akan terpisah dengan sendirinya. Hantuwen Kuyang tidak akan bisa kembali menjadi manusia jika badan yang ditinggalkannya di balik seseorang. Begitulah cerita-cerita yang aku dengar dari ninih Marus, tetanggaku.
Suara adzan baru selesai dikumandangkan, menandakan bahwa setiap santri yang mengaji harus segera menyudahi pelajarannya. Inilah yang menarik dari desaku, toleransi beragama, walaupun mayoritas di sana beragama Kristen. Tiap-tiap masuk waktu shalat, kumandang suara adzan akan selalu menghiasi sudut-sudut kampung. Kami pulang berjalan kaki sambil membawa obor. Kerlap kerlip obor berjajar memanjang bagai untaian berlian di tengah kegelapan.
Pemandangan demikian selalu menghiasi malam seusai pulang mengaji. Satu persatu dari kami berpisah menuju rumah masing-masing. Rumahku dan Ja’far berdekatan berada paling ujung desa Parahiyangan dan harus melewati hutan bambu yang lebat. Sebenarnya ada jalan lain, tetapi selain lebih jauh juga harus melewati pemakaman yang angker, aku memilih lewat jalan dekat walaupun ada hutan bambunya. Sambil membawa obor sebagai penerang aku berjalan di depan.
“Anwar, kamu yakin mau lewat sini?” Ja’far bertanya sambil membuntuti langkahku.
”Daripada lewat pemakaman” jawabku sekenanya menurut teman-temanku, Hantuwen Kuyang selain menjalankan ritual di kamar khusus biasa juga ditempat-tempat sepi, seperti hutan bambu atau rumah-rumah kosong Kami hampir sampai hutan bambu, keringat dingin membanjiri baju koko yang kukenakan. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Ja’far, yang jelas sejak memasuki hutan bambu, tangannya tak pernah melepas. Sudah separuh hutan bambu terlewati.
“ Jangan cepat-cepat!” Aku tak menanggapi omongan Ja’far, mataku menangkap cahaya terbang dilangit meluncur cepat ke tempat yang tak jauh dari kami berdiri.
“Ja’far…kamu melihatnya?”
“apa?” jawab Ja’far.
“Hantuwen Kuyang…” belum selesai aku berucap, Ja’far sudah memeluk erat tubuhku.
“Anwar, yang benar kamu?” “B…enar!Aku penasaran ingin melihatnya, tadi jatuh kearah pohon pisang itu” ucapku kemudian.
Rasa takut yang sejak tadi menguasaiku seolah sirna oleh rasa keingintahuanku, aku hanya mendengar cerita dari teman mengenai makhluk itu, saat ini aku berkesempatan mengetahuinya sendiri. Pasti akan menjadi berita heboh esoknya.
“ kau ikut tidak?” tanyaku kemudian.
“ yang bener kamu?” Ja’far balik bertanya.
“he…eh” Lampu obor kami matikan, sandal jepit kami lepas. Kebiasan kami jika hendak lari kencang, dan memang kami melakukannya saat ini. Batang-batang bambu yang lebat menjadikan kami sulit mengetahui lebih dekat pohon pisang tempat makhluk api tadi meluncur. Barulah setelah merangkak pelan dan melewati batang bambu yang tumbang, kami baru bisa mendekati pohon pisang itu. Dari jarak kira-kira tiga meter aku bisa melihat dengan lamat-lamat.
Jasad tengkurap di tanah beralaskan kain putih. Tak jauh dari jasad itu ada peralatan ritual yang tak satupun aku mengerti, mungkin salah satu dari peralatan itu ada minyak bintang yang berguna memisahkan jasad dan kepala tanpa rasa sakit. Jasad itu berdiri terhuyung-huyung, kemudian benar-benar tegak berdiri. Merapikan pakaian yang ia kenakan. Dan pergi kearah jalan yang kami lewati menuju kearah musholla tempat kami mengaji. Sangat dekat dengan tempat persembunyian kami. Rambutnya panjang rapi, dengan baju setengah badan menampakkan sebagian payudaranya, bau minyak bintang menyeruak kerongga hidung.
“S..stt bukankah itu Dulueloy wanita desa kita, ada apa malam-malam begini ia kesini?” bisikku pelan.
“Iya, berarti benar Dulueloy wanita jadi-jadian itu?”
“mungkin” Hampir satu jam-an kami masih bersembunyi, setelah memastikan wanita tadi telah pergi jauh, baru kami keluar. Dan berlari sekencang-kencangnya.
“Anwar…!! Aku tidur di rumahmu ya?” pinta Ja’far di sela-sela larinya.
“ Iya. Nggak pa pa” Setelah mendekati poskamling kami berhenti berlari. Suasana sudah terang karena banyak obor-obor dipelataran. Satu dua penjaga bercengkrama di pos sambil bermain kartu.
“ War… menurutmu gimana setelah melihat hal tadi?”
“kita tidak bisa langsung mengambil keputusan , bisa jadi kita salah lihat.”
“Tapi aku yakin, aku berani sumpah dia itu Dulueloy, warga desa kita. Apa kamu tidak lihat rambutnya yang panjang, bukankah di daerah ini rambutnya pendek-pendek, hanya dia yang rambutnya panjang. Lihatlah cara dia berpakaian, seronok memamerkan tubuh moleknya. Bukankah itu semua hanya ada pada dia. Aku bisa memastikan Dulueloy wanita jadi-jadian itu”
“ Iya, tapi kita tetap tidak bisa langsung menuduhnya, banyak kemungkinan-kemungkinan lain” ucapku pelan.
Bulan telah berganti. Musim kemarau datang, udara yang dibawa dari perbukitan terasa kering dan panas. Daun-daun pohon karet menguning, meranggas, jatuh. Siang menjadi lengang, tak banyak yang lalu lalang, mereka lebih senang bercengkrama dengan keluarga. Dan malam selalu dinanti. Anak-anak berkumpul di balai desa, macam –macam saja permainannya. Hantuwen Kuyang menghilang. Hingga suatu sore, ketika hujan deras, aku benar-benar melihat sendiri, Dulueloy pergi ke arah hutan bambu.
Ku ikuti langkahya dari kejauhan, dan ia berhenti di bawah pohon pisang. Mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah botol minyak. Ia oleskan disekeliling leher, dan berbaring ditanah yang beralaskan kain putih. Kepala itu bersama organ tubuh tiba-tiba keluar melesat kelangit. Aku gemetaran melihatnya, tak kusangka Dulueloy benar-benar wanita jadi-jadian itu. Aku ingat, kata ninih Marus, jika jasad Hantuwen Kuyang yang terpisah dari kepalanya dibalik, maka makhluk itu tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Selamanya.
Aku beranikan untuk melukan hal ini, ku balik jasad yang terbaring itu. Lantas mengambil minyak bintang yang berada tak jauh dari tas. Buru-buru aku berdiam di kamar mengurung diri.
Esoknya, pemakaman di kampungku ramai, Dulueloy meninggal tanpa ada yang tahu apa penyebabnya. Aku tak mau memberitahu mereka, tentang peristiwa yang aku alami. Minyak bintang yang ku bawa telah kubuang ke sungai. Hantuwen Kuyang tidak akan bisa mengambilnya, karena Hantuwen itu paling takut dengan air. Desaku akan hidup tentram. Tapi aku pun tak yakin kalau wanita jadi-jadian itu benar-benar sudah lenyap.
Malam baru usai, ditandai cahaya fajar lamat-lamat menerobos celah-celah dedaunan bambu. Di ujung jalan desa Parahiyangan, seorang wanita asing berjalan gontai masuk melewati batas perkampungan. Rambutnya panjang rapi, dengan baju setengah badan menampakkan sebagian payudaranya. Tangannya yang putih halus melambai lemah ke arahku. Lamat-lamat, bau yang sudah benar-benar kukenal, menusuk rongga hidungku, aroma minyak bintang. Aku tersentak…..
Selesai…….
Kembali Ke Atas Go down
http://www.facebook.com/TheManWithoutName
TL-TweetLine
Member
Member


Male Jumlah posting : 10
Join date : 26.01.13
Age : 19
Lokasi : Kuningan Jawa Barat

PostSubyek: Re: Kuyang Parahiyangan   Sat Mar 02, 2013 8:07 pm

serem ga? males gw belum baca ._.
Kembali Ke Atas Go down
PhilipSiregar
Momod
Momod


Male Jumlah posting : 33
Join date : 10.02.13
Age : 21
Lokasi : Depan Laptop

PostSubyek: Re: Kuyang Parahiyangan   Sun Mar 03, 2013 2:41 pm

TL-TweetLine wrote:
serem ga? males gw belum baca ._.

mayan sih kata gw..
Kembali Ke Atas Go down
http://www.facebook.com/TheManWithoutName
Sponsored content




PostSubyek: Re: Kuyang Parahiyangan   Today at 8:04 am

Kembali Ke Atas Go down
 
Kuyang Parahiyangan
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
DotA Guide Indonesia :: General Discussion :: Cerita Horor-
Navigasi: